MENTERI Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengungkapkan perusahaan pertambangan asal Prancis, Eramet Group ingin memperkuat jejaknya di Indonesia. Rosan mengatakan keinginan tersebut disampaikan saat pertemuan dengan CEO Eramet Group Christel Bories di Jakarta pada Senin (3/2/2025). Pihak Eramet mau berinvestasi eksplorasi dan mengembangkan produksi tambang di Tanah Air.
“Mereka ingin mengembangkan, tidak hanya sebagai kontraktor tapi juga bisa sebagai ikut mengembangkan untuk bisa mempunyai production ya di kita,” ujar Rosan di Istana Kepresidenan, Selasa (4/2/2025).
Melalui akun Instagram, Rosan mendetailkan bahwa Eramet memaparkan rencana investasinya, termasuk eksplorasi wilayah baru di Sulawesi Selatan dan Papua, serta pengembangan proyek Responsible Green Electric Vehicle (RGEV) yang melibatkan berbagai mitra strategis.
Baca : Sebanyak 112 Peserta Ikut STQH XXVIII Tingkat Kabupaten Barru Tahun 2025
Sebelumnya, Eramet mengumumkan telah memutuskan tidak berinvestasi di proyek pabrik bahan baku baterai kendaraan listrik di Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Proyek smelter nikel-kobalt US$2,6 miliar atau setara Rp42,72 triliun (asumsi kurs Rp16.431 per US$) tersebut semula akan digarap bersama pabrikan kimia asal Jerman, BASF SE. Setelah dikaji mendalam, termasuk strategi pelaksanaan proyek, kedua mitra memutuskan tidak melakukan investasi tersebut.
Eramet menekankan akan terus mengevaluasi potensi investasi dalam rantai nilai baterai nikel untuk kendaraan listrik di Indonesia. Dalam laporan yang dibuat projectmultatuli.org disebutkan pada tahun 2022, Eramet mendirikan badan hukum lokal PT Eramet Indonesia Mining untuk mencari lahan tambang baru, kemudian rencana memproduksi nikel-kobalt untuk baterai kendaraan listrik.
Baca : Hilirisasi Tambang Tingkatkan Perekonomian Bantaeng
Kemudian pada 2023, Eramet berkongsi dengan Kalla Group milik pengusaha dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla membentuk PT Eramet Bumi Sulawesi. Data Kementerian Hukum dan HAM menunjukkan perusahaan ini bergerak di bidang pertambangan bijih nikel, dengan 70% saham dikuasai PT Eramet Indonesia Mining dan 30% dikendalikan PT Bumi Mining Lestari, bagian dari Kalla Group.
Pada Juli 2023, Kalla Group meneken perjanjian dengan Eramet, perusahaan baterai PowerCo S.E. milik Volkswagen Group asal Jerman, dan perusahaan otomotif Stellantis N.V. asal Belanda untuk membangun Pusat Kendaraan Listrik Ramah Lingkungan (RGEV) di Indonesia.
Baca : Ramai Dijual Online, Pemprov-Polda Sulsel Dukung BPOM Berantas Skincare Berbahaya
Ekspansi Eramet asal Prancis yang baru pekan lalu disampaikan ke publik semakin mengonfirmasi bahwa kehadirannya di Sulsel dipastikan berkolaborasi dengan Kalla Group. Pada Juni 2024 lalu, Zumadi SM Anwar selaku Marketing, Strategy & Digitalization Director Kalla Group mengatakan dalam beberapa tahun ke depan, pihaknya fokus mengembangkan bisnis berbasis green energy. “Nilai investasinya mencapai Rp 10 triliun,” kata Zumadi seperti dikutip beberapa media saat itu.
Nilai tersebut mulai dari sektor hulu membangun beberapa Independent Power Producer (IPP) atau listrik swasta untuk pembangkit listrik tenaga air/hydro (PLTA). Kemudian mengembangkan eksosistem pembuatan baterai EV mulai dari upstream sampai dengan downstream melalui Eramet Bumi Sulawesi dan Bumi Mineral Sulawesi.
Sedangkan di Hilir, menjadi salah satu main dealer motor listrik United EV serta menghadirkan green property di Nipah PARK dan perumahan Bukit Baruga. Kalla Group juga merambah smelter yaitu PT Bumi Mineral Sulawesi yang menggunakan 100% sumber energi terbarukan yang nantinya akan menghasilkan feronikel dan nikel sulfat. [redaksi@karebasulsel.com]





