BARRU – Dunia sepak bola Indonesia mengenal Andi Ramang. Liku-liku perjalanan hidup dan prestasinya telah mengukir sejarah di Indonesia. Meski berakhir dengan sedikit catatan “buram”, putra kelahiran Barru, Sulawesi Selatan tersebut, masuk dalam para legenda disegani induk organisasi sepak bola dunia alias FIFA (Fédération Internationale de Football Association).
FIFA Legends 2022 lalu itu merupakan penghargaan bagi pemain yang memiliki pencapaian luar biasa baik di liga domestik maupun internasional. Sebanyak 7.000 pesepak bola top seluruh dunia sudah masuk ke dalam FIFA Legends, Andi Ramang salah satu di dalamnya.
Nama Ramang makin eksis dalam dunia sepak bola Indonesia mulai tahun 1950-an, berposisi sebagai penyerang meski berpostur mungil sehingga dijuluki Monster Kurcaci. Julukan itu justru diberikan FIFA, khusus untuk pria kelahiran 24 April 1924.
Di level klub, Andi lebih banyak menghabiskan waktunya bersama PSM Makassar selama dua periode, mulai 1947-1960-an hingga 1962-1968. Sosok Andi Ramang pun melekat sehingga salah satu julukan skuad Juku Eja adalah Pasukan Ramang berkat prestasinya bersama timnas Indonesia.
Saat itu timnas Indonesia berlaga di Olimpiade Melbourne 1956, sekaligus menjadi ajang tertinggi yang pernah diikuti skuad Garuda di kancah internasional. Timnas sempat menyulitkan Uni Soviet, meski negara ini sudah memainkan kiper terbaik satu-satunya peraih Ballon d’Or, Lev Yashin.
Baca : Stadion Sudiang Makassar Telan Rp 1,3 Triliun, Bagaimana Stadion Ramang di Barru?
Dia nyaris mencetak gol pada menit ke-84. Hasil akhir 0-0 menutup pertandingan tersebut, laga pun harus diulang mengingat saat itu belum ada sistem adu penalti dan pada pertandingan kedua Indonesia dibantai 0-4.
Sepak bola Indonesia saat ini masih menyimpan sejumlah pekerjaan rumah. Terobosan dan dinamika yang dilakukan dalam tiga dekade terakhir masih perlu dibenahi. Saatnya untuk mendalami lagi nilai-nilai yang ditanamkan Sang Legenda “Penarik Becak” yang akhirnya menjadi Penjual Kopi. Ketulusan tanpa pamrih pada Merah Putih dan patriotisme mungkin masih kurang dalam dunia sepak bola Indonesia saat ini. Mungkinkah Ramang-Ramang muda lahir dari Nusantara ini? [KarebaSulsel.com]






Betul , barru harus bangga