RAGAM

Ini Solusi Pakar IPB, Irigasi Bawah Permukaan Tingkatkan Efisiensi Air

BOGOR, KAREBASULSEL – Teknologi irigasi dan drainase bawah permukaan (subsurface) sebagai solusi efisien dan berkelanjutan untuk pertanian di Indonesia. Teknologi ini diklaim mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus mendongkrak produktivitas tanaman.

Demikian pemaparan yang disampaikan Prof Satyanto Krido Saptomo dalam orasi Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB University akhir pekan lalu. Selain Satyanto, tiga pengajar IPB University yang melakukan orasi bersamaan pada Sabtu (28/6/ 2025) adalah Prof Dr drh Safika, MKes dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, Prof Dr Ir Jono Mintarto Munandar, MSc dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen, serta Prof Dr Yeni Herdiyeni, SSi, MKom dari Sekolah Sains Data, Matematika dan Informatika.

Dalam keterangan yang dikutip dari ipb.ac.id, Selasa (1/7/2025), Satyanto menjelaskan teknologi irigasi dan drainase bawah permukaan menjadi solusi pengelolaan air yang lebih efisien. Apalagi, air menjadi isu sentral dalam mewujudkan sistem pertanian berkelanjutan.

“Ketergantungan pertanian terhadap air yang sangat tinggi, di tengah ancaman perubahan iklim dan degradasi sumber daya, mendorong lahirnya inovasi teknologi yang mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas,” jelas Dodik, sapaan akrabnya.

Dikatakan, teknologi irigasi dan drainase bawah permukaan merupakan sistem pengelolaan air yang memungkinkan air dialirkan dan dikontrol di bawah permukaan tanah. Dari kajiannya, sistem tersebut lebih efisien dan efektif dibandingkan metode irigasi konvensional dalam menjaga kadar air dalam tanah.

“Dengan menjaga tinggi muka air di zona akar tanaman, sistem ini mampu mengoptimalkan kelembapan tanah tanpa menyebabkan genangan di permukaan lahan. Salah satu teknologi yang termasuk dalam sistem ini adalah sheet-pipe, yaitu pipa berlubang yang dibentuk dari lembaran plastik dan ditanam di dalam tanah menggunakan alat mole-plough. Sistem sheet-pipe dirancang untuk meningkatkan fungsi drainase,” paparnya.

Dia menjelaskan pada tahap awal teknologi ini diterapkan untuk mengatasi persoalan genangan dan meningkatkan aerasi tanah. Hal itu dilakukan dengan uji lapangan pada lahan percobaan seluas 3.600 meter persegi di Stasiun Penelitian Padi Sukamandi. Hasilnya menunjukkan kemampuan sistem ini dalam menurunkan muka air tanah, mempercepat proses pengeringan lahan, serta meningkatkan produktivitas padi hingga 13,36%.

“Efisiensi penggunaan air juga mengalami peningkatan signifikan, sebesar 20% pada aspek evapotranspirasi dan 14% secara keseluruhan. Sistem ini dikembangkan menjadi subsurface irrigation system yang memungkinkan air dialirkan secara langsung ke zona akar tanaman,” terangnya.

Satyanto menjelaskan hasil eksperimen menunjukkan irigasi bawah permukaan menggunakan sheet-pipe mampu mengurangi kebutuhan air irigasi hingga 50,5%, meskipun dengan penurunan hasil panen sebesar 15,5-18,6%. Namun, efisiensi penggunaan air meningkat hingga 70,8%, dan produktivitas air mencapai 3,2-10,4%, menjadikannya solusi menarik dalam budidaya padi hemat air dan padi organik tanpa genangan.

“Aspek penting lain dari penelitian ini adalah integrasi teknologi Internet of Things (IoT) dalam sistem irigasi. Sistem ini dilengkapi dengan sensor muka air, katup solenoid, dan Remote Telemetry and Control Unit (RTCU) yang memungkinkan pemantauan dan pengaturan tinggi muka air secara real-time dari jarak jauh. Pengaturan dilakukan melalui dashboard daring berbasis cloud, sehingga pengguna dapat mengatur sistem sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi cuaca,” jelasnya.

Dia menambahkan, dalam pengujian laboratorium, sistem ini berhasil menjaga tinggi muka air dalam kisaran set-point dengan error hanya ±2,6 cm. Pendekatan lain yang digunakan dalam pengelolaan air adalah konsep hydrometry, hydromodeling dan hydrocontrol. Hydrometry melibatkan pengukuran parameter hidrologi seperti debit, tinggi muka air, kelembapan, dan evapotranspirasi, menggunakan sensor.

Hydromodeling mengacu pada penggunaan simulasi matematis untuk memprediksi pergerakan air di dalam dan permukaan tanah. Hydrocontrol memungkinkan pengaturan air dalam sistem irigasi dan drainase secara otomatis berdasarkan data lingkungan dan kebutuhan tanaman, termasuk algoritma kecerdasan buatan untuk pengaturan tinggi air,” jelasnya. [PR/KP]

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *