BARRU – Kisah tentang kehebatan Andi Ramang sebagai pemain sepak bola sudah melegenda. Induk organisasi sepak bola dunia alias FIFA (Fédération Internationale de Football Association) pun mengakuinya sebagai salah satu pemain terhebat era tahun 1950an. Saat 25 tahun wafatnya pada tahun 2012 diperingati FIFA dengan tema Indonesian Who Inspired ’50s Meridian (Orang Indonesia yang Menginspirasi Puncak Sukses Tahun 1950-an).
Andi Ramang (FIFA menulisnya Rusli Ramang) bermain sebanyak 397 kali sepanjang karirnya dan mencetak 316 gol, artinya 79,5%. Ini prestasi yang luar biasa. Mencetak gol pada era itu bukan perkara mudah mengingat peraturan belum seketat sekarang sehingga pemain “leluasa” bermain kasar cederung kotor untuk menjegal lawan mencetak gol. Tetapi Ramang bisa mencetak gol dalam posisi dan dengan cara apapun yang dia mau. Dalam bermain sepak bola Ramang punya kecerdasan jauh di atas rata-rata.
Sejumlah sumber yang ditelusuri KarebaSulsel.com menyebutkan Andi Ramang bertubuh mungil dan kekar. Ketika mengenang Andi Ramang, FIFA menyebutkan tingginya hanya 156 centimeter (cm) tapi bagi para pemain (lawan) yang berbadan jauh lebih tinggi, besar, dan kekar, Ramang adalah “si kurcaci pembunuh”. Mungkin karena pendek maka disebut kurcaci. Ada julukan yang mirip lainnya yakni “kurcaci monster” dan kadang juga disebut “macan Asia” pada jamannya.
Baca : Stadion Sudiang Makassar Telan Rp 1,3 Triliun, Bagaimana Stadion Ramang di Barru?
Sejarah mencatat, ketika melawan Uni Soviet pada Olimpiade 1956, tepatnya 29 November 1956, dalam laga yang dipimpin wasit asal Jepang, Takenoko Shi, Indonesia dalam posisi tak diunggulkan. Namun, sebuah kejutan dibuat lewat aksi Andi Ramang. Jagoan PSM Makassar ini ada di starting eleven, sementara nama Jasrin Jusron yang mencetak hattrick ke gawang Amerika Serikat malah tidak ada. Andi Ramang menjadi pemain paling merepotkan dari kubu Indonesia lewat pergerakan lincahnya.
Lev Yashin, legenda kiper dalam sejarah sepak bola dari klub Dynamo Moscow dibuat kerepotan. Ia harus melakukan beberapa penyelamatan setelah Andi Ramang berhasil mengecoh penjagaan Uni Soviet dan melepaskan sepakan ke arah gawang.
Tubuh mungil Ramang tampak tidak sebanding dengan kejangkungan dan kekekaran pesepakbola lawan. Sedikit saja kena senggol, mereka bisa tersungkur di lapangan. Namun Ramang, pemain bernomor punggung 11, tidak menganggap ukuran fisik sebagai penghambat. Dia memberi pesan bahwa Indonesia tidak bisa diremehkan. sekalipun oleh tim terkuat di dunia.
“Bek-bek Uni Soviet yang bertubuh raksasa langsung terbangun saat Ramang, penyerang lubang bertubuh kecil, melewati dua pemain dan memaksa Yashin melakukan beberapa kali penyelamatan,” tulis situs resmi FIFA dalam Indonesian Who Inspired ’50s Meridian.
Karena pertandingan berakhir sama kuat, maka pertandingan ulang digelar untuk mencari pemenang. Uni Soviet yang mengetahui kehebatan Andi Ramang lalu menyusun penjagaan berlapis. Pemain itu dikunci habis-habisan sehingga Indonesia sulit berkutik, dan dipaksa bertahan. Gavriil Kachalin pelatih kepala tim nasional Uni Soviet saat itu membuat strategi khusus.
“Kachalin memerintahkan Netto–kapten tim Uni Soviet yang berposisi sebagai playmaker untuk mengambil peran lebih defensif untuk menjaga pergerakan pemain nomor 11 Indonesia,” bunyi tulisan FIFA. Benar saja, Ramang tidak bisa bergerak sehingga Uni Soviet mampu mengalahkan Indonesia dengan skor 4-0.
Uni Soviet pada akhirnya berhasil merebut medali emas di Olimpiade Melbourne. Terdapat andil Ramang, di balik sebutan Macan Asia yang kental disematkan kepada Indonesia pada periode 1940 hingga 1960-an. [redaksi@karebasulsel.com]





