DEPOK, KAREBASULSEL – Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) mempertegas komitmennya untuk memacu hilirisasi singkong sebagai komoditas strategis penopang pangan dan bioenergi nasional. Langkah ini krusial di tengah krisis iklim global serta tingginya ketergantungan Indonesia pada impor energi dan bahan baku pangan.
Ketua Umum MSI Arifin Lambaga menyatakan bahwa pemanfaatan singkong di Indonesia harus terus dioptimalkan karena banyak dampak ganda dari komoditas tersebut. Mulai dari pangan untuk konsumsi masyarakat, kemudian bahan baku industri dan energi hingga pemanfaatan pakan ternak.
“Bahkan ada beberapa olahan singkong, seperti dari daun dan bagian-bagian tertentu, yang diperlukan dalam bidang farmasi. Ini yang MSI juga sedang garap dengan pakar-pakar dari Institut Teknologi Bandung,” ujar Arifin saat memberi sambutan dalam Musyawarah Nasional (Munas) IV di Sekretariat DPP MSI, Depok, Jawa Barat, Rabu (29/7/2026).
Dalam sidang Munas yang dipimpin Sekjen MSI Heri Soba tersebut, Arifin Lambaga kembali terpilih secara aklamasi yang dihadiri jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) MSI dan DPW dari Aceh, Sumatera Utara (Asahan), Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Jawa Barat (Bogor Raya dan Sukabumi), Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan.
Secara konsisten sejak 2010, kata dia, MSI mengawal pengembangan potensi hulu-hilir singkong nasional. Munas IV yang berlangsung secara hybrid tersebut menandai berakhirnya masa bakti Kepengurusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) MSI periode 2020–2025, sekaligus memetakan ulang strategi percepatan hilirisasi singkong untuk mendukung target energi bersih nasional.
Arifin menyampaikan, kesiapan sektor budidaya dan kelengkapan perangkat regulasi menjadi kunci utama dalam merealisasikan potensi besar komoditas unggulan ini. Singkong tidak hanya berpotensi memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga memiliki peran sentral dalam mendukung program pencampuran bioetanol nasional. Kebijakan tata kelola bioetanol nasional dinilai sangat terbuka bagi keterlibatan petani lokal. Dengan skema bahan baku yang tidak bersifat tunggal atau dapat dikombinasikan dengan feedstock lain, peluang pembudidaya singkong untuk mengisi rantai pasok industri bioenergi terbuka lebar.
Mengenai skala industri, Arifin memaparkan kalkulasi kebutuhan bahan baku untuk fasilitas produksi secara realistis. Ia menyebut satu unit pabrik bioetanol berkapasitas 100.000 liter per hari membutuhkan pasokan singkong segar setidaknya 650 hingga 700 ton per hari, yang membutuhkan dukungan penuh dari pemerintah.
Selain sektor energi, hilirisasi singkong di sektor pangan terus dipacu melalui berbagai kolaborasi dan promosi internasional. MSI mencatat keterlibatannya bersama Kementerian Pertanian dalam mempromosikan olahan singkong di Yogyakarta hingga Tiongkok guna menggerakkan minat pasar dan menarik investasi industri.
Dalam laporan kinerjanya, Arifin menggarisbawahi pentingnya pembenahan basis data industri UMKM agar bantuan pemerintah tepat sasaran. Selain itu, program pelatihan budidaya dan produksi efektif yang telah menjangkau 5.000 peserta terus didorong untuk direplikasi ke berbagai sentra produksi di Indonesia.
Wakil Ketua MSI Bidang UMKM Achmad Rachman mengungkapkan urgensi singkong untuk energi nasional juga sangat mendesak. Untuk mendukung skema percampuran E10 dengan estimasi kebutuhan 1,5 juta kiloliter bioetanol, dibutuhkan target penanaman singkong hingga 520.000 hektare. [LN]





